Perkembangan Unicorn Di Indonesia

Category:  Business

Debat presiden beberapa hari yang lalu mempopulerkan Unicorn yang sebagian netizen dan generasi millenial yang sering membaca berita tentang bisnis dan teknologi pasti tahu.

Disebutkan Pak Jokowi ada sekitar 7 Unicorn ASEAN yang ke 4 nya berasal dari Indonesia. Yakni Gojek, Tokopedia, Traveloka, dan terakhir Bukalapak yang sempat populer juga minggu lalu dengan berita soal cuitan CEO nya Achmad Zaky yang menyinggung soal : "Omong kosong industri 4.0 kalau budget R&D negara kita kayak gini (dua miliar dolar AS, 2016), mudah-mudahan presiden baru bisa naikin," cuitnya, pada hari Rabu (13/2/2019) pukul 22.25 WIB.

Cuitan ini ditanggapi sejumlah netizen dengan menyimpulkan bahwa Zaky "menyerang" Pak Jokowi lantaran adanya kata "presiden baru" yang dinilai netizen sebagai ucapan dukungan terhadap paslon Prabowo-Sandiaga. Cuitan itu pada saat ini akhirnya menghilang dari halaman Twitter Zaky.

Kembali ke pembahasan soal Unicorn, Di Indonesia setidaknya saat ini sudah terdapat 4 unicorn. Unicorn adalah sebutan bagi start-up alias perusahaan rintisan yang bernilai di atas 1 miliar dollar AS atau setara Rp 13,5 triliun (kurs Rp 13.500 per dollar AS). Gojek merupakan startup pertama asal Indonesia yang mendapat gelar tersebut. Gojek, memantapkan diri sebagai Unicorn tepat pada 4 Agustus 2016 lalu selepas menerima pendanaan senilai $550 juta dari konsorsium 8 investor yang digawangi oleh Sequoia Capital dan Warbrug lalu terakhir pada Mei 2017 oleh JD.com dan Tencent Holding. Lalu Go-jek baru-baru ini menerima kucuran dana dari Google sebesar 1,2 miliar dollar AS. Hal ini menjadikan valuasi Go-Jek saat ini ditaksir mencapai 4 miliar dolar AS atau lebih dari Rp 53 triliun, yang merupakan nilai tertinggi di antara empat Unicorn Indonesia.

Startup kedua asal Indonesia yang menjadi Unicorn ialah Tokopedia. Data yang dijabarkan dari Crunchbase mengungkapkan bahwa layanan online market place tersebut, kini secara keseluruhan telah memperoleh pendanaan senilai $1,347 miliar. Dari angka itu, investasi terbesar dicacatkan pada 17 Agustus 2017 lalu ketika Tokopedia memperoleh suntikan dana senilai $1,1 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14,7 triliun dari perusahaan terbesar di China yakni Alibaba Group. 

Startup yang menjadi Unicorn ketiga adalah Traveloka. Layanan ini menyandang gelar Unicorn selepas Expedia, layanan sejenis yang populer di luar negeri, mengucurkan dana senilai $350 juta pada 27 Juli 2017 lalu. Ini membuat Traveloka total telah memperoleh pendanaan sebesar $500 juta.

Masuknya Bukalapak menjadi bagian dari startup Unicorn nomor 4 di Indonesia, setelah sebelumnya CEO Bukalapak Achmad Zaky menyebut Bukalapak telah memiliki valuasi lebih dari Rp 13,5 triliun. Hal ini patut diapresiasi terutama terkait dengan aliran dana yang masuk ke dunia startup Indonesia yang memang mengalami peningkatan. Data yang dipaparkan CBS Insights memaparkan bahwa terjadi kenaikan investasi yang cukup tinggi bagi dunia startup di kawasan Asia Tenggara, termasuk, tentu saja, Indonesia.

Pada awal tahun ini di tahun 2019, kemungkinan muncul Unicorn selanjutnya adalah salah satu layanan fintech saingan Go-Pay yakni OVO. Setelah resmi bermitra dengan Grab dan terakhir Tokopedia, dompet digital OVO yang disebut OVO Cash, dapat digunakan para pengguna Grab dan Tokopedia. Di Indonesia, OVO Cash menggantikan platform pembayaran cashless Grab sebelumnya yakni GrabPay. Seperti halnya Go-Pay, dengan OVO Cash pengguna juga bisa melakukan pembayaran non-tunai untuk transportasi on-demand dan pengiriman makanan di lebih dari 130 kota di seluruh Indonesia. Bahkan untuk bersaing dengan  Go-Pay, OVO Bakal Bisa Dipakai Transaksi di Warung".

Langkah Go-Jek mengakuisisi tiga startup financial technology, yaitu Kartuku, Midtrans, dan Mapan, memicu OVO menggandeng mitra yang tingkat penggunaannya (use case) tinggi seperti transportasi, makanan dan minuman, maupun e-commerce. Strategi OVO menjajaki strategic partnership dengan (perusahaan) yang punya reputasi. Yang teranyar, OVO berencana untuk menyediakan fitur cicilan. Layanan bayar kemudian (Pay Later) ini lebih dulu diterapkan untuk pembayaran di Tokopedia. 

Go-Pay milik Go-Jek tak hanya berfungsi untuk transaksi pembayaran di dalam aplikasi. Ia kini bisa juga digunakan untuk transaksi di luar ekosistem Go-Jek. Setelah bisa dipakai untuk bayar bensin di SPBU, kopi di Starbucks, hingga buku di Gramedia, kini Go-Pay bisa digunakan untuk pembayaran belanja di toko online. Cara bayar belanja dengan Go-Pay di toko online mitra cukup mudah. Pelanggan hanya perlu membuka situs toko online, pilih produk yang diinginkan, lalu check-out dan pilih opsi pembayaran dengan Go-Pay.

Prediksi IDC Indonesia memperkirakan ada 13 perusahaan teknologi keuangan (fintech) yang berpotensi semakin besar. Bahkan bila konsisten mereka bisa menjadi calon Unicorn. Perusahaan-perusahaan tersebut adalah Go-pay, Midtrans, Xendit, Doku, serta T-Cash dari kategori Payment; Modalku, Akseleran, Investree, serta Uangteman dari kategoti Lending; AturDuit dari kategori Marketplace; Finansialku dari kategori Wealth Management; Jojonomic dari kategori Company Solutions; serta Jurnal dari kategori Cloud-based Accounting.

Dengan maraknya perkembangan fintech di Indonesia membuat pemerintah memastikan layanan keuangan elektronik plat merah yakni LinkAja akan dirilis dalam waktu dekat. Bila tak ada aral melintang, LinkAja akan di-launching pada Maret 2019 yang merupakan buatan Himpunan Bank Milik Negara, Himbara berencana menggandeng dua BUMN Pertamina dan Telkom Indonesia untuk membentuk layanan financial technology (fintech) terintegrasi ini.

Sumber : Kompas & Tirto.id