Digital Vortex

Category:  Technology
Digital Vortex

 

 

Untuk jaman sekarang ini sepertinya kebanyakan dari kita baik yang tua maupun yang muda sampai dengan anak-anak sudah melekatkan dirinya dengan dunia digital, mulai dari media sosial, memesan sarana transportasi, memesan makanan, gaya berbelanja, gaya belajar bahkan yang berhubungan dengan dunia finance dan payment. Mau belanja barang, juga banyak orang lebih suka belinya di online shop daripada harus pergi belanja ke mall.

Lalu apa yang terjadi pada banyak industri di sini, ketika dunia digital di Indonesia sudah mulai berkembang.

Lalu apa hubungan nya semua itu dengan istilah Digital Vortex yang belum lama ini didengungkan? 

Sekilas tentang digital vortex

Melalui gambar digital vortex diatas kita bisa lihat kalau ada banyak industri yang bisa terkena dampak (terdisrupsi) dengan adanya digital. Semakin ke tengah, berarti industri tersebut semakin mudah terdisrupsi.

Anggap bahwa itu sebuah angin puting beliung yang menyedot apa pun di sekitarnya ke arah tengah.  Mau tidak mau perusahaan konvensional harus masuk ke ranah dunia digital

Indonesia saat ini menduduki peringkat ke-5 untuk jumlah pengguna internet terbesar di dunia dan itu baru 50% penduduk Indonesia yang memanfaatkan internet. 

Salah satu hal yang membantu penduduk Indonesia mengakses internet adalah dengan adanya smartphone. Sekarang smartphone semakin lama semakin terjangkau harganya. Dan pengguna smartphone di Indonesia saat ini udah ada sekitar 92 juta orang. dan itu masih sekitar 1/3 dari jumlah penduduk kita.

Rencana ke depannya, mau ada program pengembangan fiber optic nasional. Kalau saya baca di Tribunnews.com, targetnya di tahun 2019, akan ada sekitar 71% rumah di perkotaan yang terhubung dengan fiber optic internet dengan kecepatan sampai 20Mbps. Sementara kalau di desa, targetnya adalah 47% rumah terhubung oleh fiber optic internet dengan kecepatan sampai 10Mbps.

Kita percaya akan semakin banyak penduduk di Indonesia yang mulai mendapat akses ke dunia digital. Dulu kalau kita mau cari ojek terkadang susah, sekarang tinggal ambil smartphone dan pesan ojek online langsung dari smartphone. Lalu ketika mau beli smartphone, langsung buka salah satu e-commerce, tinggal browse sebentar, ketemu produk yang diinginkan, kemudian beli. Mau beli pulsa, tinggal beli aja di salah satu di e-commerce. Dan yang paling sering pastinya beli tiket pesawat, sudah bisa online juga. Sekarang sebagian besar udah serba online. Jadi kemudahan digital ini memacu bisnis konvensional untuk segera berubah. Bisnis sangatlah bersifat dinamis, perusahaan harus siap dengan kondisi dimana terdapat perubahan strategi bisnis dengan tujuan untuk menguasai pasar. Strategi bisnis yang efektif ialah strategi dimana dengan melalui hal tersebut, perusahaan akan secara efektif dan efisien mencapai goal perusahaan. Saat ini bisnis sedang memasuki era digital. Disana sangat banyak perusahaan yang melakukan strategi bisnis melalui online. 

Semua bisnis memang seharusnya sudah mulai aware dengan pemanfaatan teknologi digital. Kalau tidak begitu, bukan tidak mungkin perusahaan mereka bakal ketinggalan kereta dengan yang sudah mendigitalkan perusahaannya. Lihat saja sekarang, sudah berapa banyak penerbitan yang menutup usahanya karena kalah dengan yang online. Jadi mengikuti tren digital buat pengembangan perusahaan is a must.

Ada beberapa kiat untuk perusahaan konvensional  dalam menghadapi persaingan di Era Digital ini yaitu :

1. Self Disruption

Upaya ini yaitu dengan melakukan penggantian cara kerja secara revolusioner. Hal itu dengan mengubah produk dan membangun sistem online untuk menghubungkan perusahaan dengan pasar, serta dengan memperbaiki struktur biaya maupun proses bisnis.

2. Berkolaborasi dengan Perusahaan yang sedang berkembang

Melakukan kolaborasi dengan perusahaan yang baru muncul ataupun perusahaan yang berkembang sangat disarankan, carilah pola kerja sama yang dapat memangkas biaya. Sekarang ini sudah bukan lagi zaman persaingan, tapi era kolaborasi. Dari kolaborasi ini justru kita jadi saling support dan membawa mutualisme untuk kedua belah pihak. 

3. Membangun Mindset

Untuk dapat menjalankan bisnis di era digital, perusahaan melakukan disruption. Dalam implementasinya, jajaran eksekutif harus mampu memahami makna disruption dan membongkar pola fikir (mindset) mereka.

4. Refokus segmen

Lakukan refocus segmen secepat mungkin. Perusahaan harus mampu menganalisis mana pasar yang mulai mengecil, mana pasar yang mulai ditinggalkan. Reformulasikan kembali strategi secepat mungkin.